sponsor

Select Menu

Data

OPINI

HUKUM

PENDIDIKAN

HOME » » Editorial Edisi 4: Kami Belum Merdeka


Unknown 14:42 0

Editorial Edisi 4: Kami Belum Merdeka
BMI Menggugat Kemerdekaan
Merdeka, Merdeka, Merdeka...!

Makna kemerdekaan bagi buruh yang harus bekerja di negeri asing adalah kesesakan, kontradiksi dengan momen merdeka itu sendiri. Bukankah seharusnya dengan kemerdekaan kita mendapatkan jaminan pekerjaan. Jadi setiap kali memperingati hari kemerdekaan terutama bagi kami Buruh  Migran Indonesia (BMI) adalah sebuah perjuangan yang belum selesai melawan penjajahan, melawan perbudakan.

Disisi lain gelar Pahlawan Devisa semakin membebani dan begitu dipaksakan oleh negara ini bagi kami para BMI yang diutus oleh negara untuk berjuang menambah devisa bagi negara. 
Belum lagi hak-hak kami sebagai pekerja selalu dirampas bahkan kami dijerumuskan dalam jebakan hutang yang tak pernah kami minta. Di Hong Kong walau kami mendapat hak libur tapi tidak sedikit dari kami menjadi bulan-bulanan  majikan dan agensi. Pada intinya, kondisi kami pekerja yang bekerja di negeri asing hanya tunduk pada apa yang dikatakan majikan, agensi dan peraturan negara-negara kapitalis maka dengarlah gugatan kami.

Padahal kemerdekaan yang diimpikan BMI itu sendiri tak muluk-muluk. BMI hanya ingin setelah kewajiban-kewajiban kami tunaikan, maka hak-hak kami pun seharusnya otomatis diberikan. Tapi kenyataan adalah kebalikannya. Hak-hak BMI malah dijadikan momok apalagi bila menyangkut soal upah layak ataupun upah yang tak dibayarkan oleh majikan. Namun sebenarnya masih banyak lagi hak-hak kami yang terus dirampas oleh majikan, diantaranya soal hak libur/cuti termasuk cuti saat haid, disamping juga tempat tinggal dan makanan yang layak, seringkali terlalaikan. Hak-hak tersebut adalah komponen dalam perjanjian kerja yang selama ini ditekankan dan dihilangkan. 

Perjanjian kerja adalah kekuatan daya tawar kami untuk menjadi acuan memenuhi dan menghormati hak-hak kami. Sayang di negeri kami sendiri bahkan kami tidak dilindungi karena Undang-Undang yang mengatur lebih condong pada penempatan bukan perlindungan. Karenanya, kami menuntut pemerintah untuk membuat perjanjian penempatan yang lebih bermartabat agar bangsa ini dihargai bukan hanya sekedar kesepakatan. Apalagi banyak dari kami bekerja di dalam ranah domestik yang dianggap wilayah privat dan sulit sekali tersentuh hukum yang menyebabkan kami rentan terhadap kekerasan.

Kami akan menggap  benar-benar merdeka bila pekerjaan kami tidak disepelekan lagi dan kami ingin bekerja sebagai sebuah pekerjaan bermartabat bukan pekerjaan yang dilakukan sebagai keterpaksaan akibat lemahnya kondisi ekonomi bangsa ini maupun pendidikan yang minim, melainkan sebuah pilihan kerja atas kemampuan dan keterampilan kami sebagai pekerja yang merdeka. 

Terkait dengan kemerdekaan dalam sebuah bangsa yang beraneka ragam, baik suku, agama, ras maupun profesi, diharapkan nantinya kemerdekaan bukan saja berarti lepas dari penjajahan, tetapi lebih pada pemerdekaan semua elemen bangsa, yang salah satunya adalah kemerdekaan bagi semua BMI tidak terkecuali BMI yang bekerja di sektor domestik sebagai Pekerja rumah tangga ( PRT) dalam mendapatkan haknya selaku pekerja.

Salam Juang,
Redaksi KORANMIGRAN

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.